Perkampungan Bajo – Sampela

DSC05314.JPG

Film yang dibintangi Nadine Chandrawinata itu meninggalkan memori yang tak hilang. Kehidupan masyarakat bajo dan keindahan laut yang begitu menawan. Anak – anak yang berlari dengan riang diantara jembatan – jembatan kayu, lalu dengan riang berenang di keindahan laut. Saya mau kesana…..suatu hari

Dari ujung dermaga tempat kami snorkeling di pulau Hoga, tampak sekelompok rumah-rumah panggung kayu, itulah tujuan kami. Sebuah kapal kayu kecil mengantar kami menyeberang selat. Semakin kami dekat, sekelompok rumah rumah panggung itu semakin jelas wujudnya. Rumah kayu yang disokong tiang yang cukup tinggi, tertancap pada gugusan karang yang menjadi pondasi. Tampak kehidupan masyarakat bergerak dinamis. Diatas jembatan kayu, anak-anak berlari riang, seorang nenek tua bersantai di pintu sambil menikmati desir angin sore yang hangat. Saya teringat film itu….ternyata saya sudah tiba disini; Kampung masyarakat Bajo.

Kapal kayu kami melambatkan lajunya, dan mendekatkan pada sepasang suami istri yang tampak sedang memperbaiki jala dan sepasang lainnya sedang membersihkan lumut pada badan perahu sampan. Kehidupan yang dekat dengan air menjadikan sampan sebagai sarana transportasi utama bagi masyarakat bajo. Hampir disetiap rumah terparkir sebuah sampan kayu sebagai moda transportasi masyarakat bajo untuk mengakses pulau besar yang mendukung kehidupan mereka.

bajo6

bajo8

bajo1

Kampung Bajo – Sampela terletak di sisi pulau Kaledupa _ Wakatobi. Perkampungan yang, itu menggambarkan kehidupan suku Bajo yang sesungguhnya. Lokasi perkampungannya terpisah sekitar 2 kilometer dari darata,n terletak di Desa Sama Bahari, Kecamatan Kaledupa. Luasnya mencapai 25 hektare dan dihubungkan jembatan-jembatan kayu untuk sarana interaksi sosial penduduk. Selain jalan kayu, warga biasanya menggunakan sampan untuk beraktivitas sehari-hari. Kata Sama Bahari berasal dari kata Sama yang artinya Bajo dan Bahari yang artinya Laut. Sama Bahari awalnya  merupakan tempat persinggahan masyaratkan Bajo dari berbagai pejuru kampung Bajo yang ada di Sulawesi Tenggara. Sama Bahari adalah nama yang digagas oleh Nasir (Kasi Pemerintah di Kecamatan Keledupa yang meruapakn tokoh masyarakat Bajo Sampela.

Sama Bahari dahulu dinamakan sampela dan tempatnya dinamakan Pagana, namun dikatakan Sampela karena masyarakatnya berasal dari Sampela kemudian perkampungan tersebut menjdai popular dikenal dengan sampela oleh semua kalangan masyarakat. Sampela telah didiami secara menetap oleh masyarakat bajo sejak tahun 1950an. Pada masa gerombolan DI/TII tahun 1958 masyarakat sampela banyak terpencar kebeberapa wilayah yang ada di Sulawesi Tenggara bahkan hingga luar Sulawesi Tenggara.

Dari <http://duniakitaji.blogspot.co.id/2014/04/profil-desa-sama-bahari-bajo-sampela.html>

Kedatangan kami disambut ramai bocah-bocah yang berlari riang di sepanjang jembatan kayu. Wajah riang mereka menatap kami yang bergantian menuruni kapal kacil. Saya sangat senang sekali dengan anak-anak didaerah terpencil seperti di sini. Mata mereka akan membulat besar melihat orang asing berkunjung di desa mereka, semacam beribu pertanyaan keingintahuan terpancar dari mata-mata mereka.

bajo3

Sapaan saya dijawab malu-malu dengan senyum dikulum. Saya mengeluarkan buku bacaan anak yang saya bawa, dan seketika itu mereka berebut untuk melihat. Memang tak banyak buku yang saya bawa, sehingga harus memilih beberapa anak yang telihat ‘menonjol’ dan meyakinkan mereka untuk berbagi dan bergantian membaca buku yang diberikan. Ngobrol-ngobrol singkat di ujung dermaga dengan bocah-bocak lucu ini berakhir seiring langkah kaki kami memasuki desa Sama Bahari. Sebelumnya kami sempatkan untuk berfoto bersama, sebagai kenang-kenangan.

Berjalan perlahan diatas jembatan kayu yang menjadi penghubung rumah-rumah panggung diatas laut. Menyapa beberapa bapak yang berkumpul di salah satu rumah, tersenyum ramah pada ibu-ibu yang memedaki wajahnya dengan bedak dingin agar kulit tetap terawat dan tertawa gembira bersama bocah-bocah yang terus mengiringi langkah kaki.

bajo9

bajo10

Kami mampir disebuah warung untuk santai, sejenak menikmati senja. Pemilik warung berbaik hati menyediakan air panas, sehingga kopi yang dipesan bisa langsung diseduh dan sekalian kami pesan indomie rebus pakai telor karena kami baru saja snorkeling yang cukup seru di ujung dermaga sehingga cukup lapar menjelang sore. Sambil menunggu pesanan matang, kami ngobrol santai dengan pemilik warung. Adalah suatu kebetulan bapak pemilik rumah adalah salah seroang yang aktif mengurus pendidikan anak di desa sama bahari, sehingga saya bisa menitipkan buku-buku bacaan anak  yang kebetulan saya bawa (sudah menjadi kebiasaan saat mengunjungi tempat2 indah di Indonesia, saya membawa beberapa buku bacaan anak untuk dibagikan kepada anak-anak  yang saya temukan diperjalanan). Sementara yang lain masih terlibat ngobrol asik dengan pemilik warung, saya menyempatkan untuk mengunjungi rumah masyarakat bajo berbentuk panggung. Dari balkon teras saya memasuki ruang tengah yang lapang yang berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga dan ruang serbaguna. Di sebelah kiri berjajar kamar dan dibagian belakang terdapat dapur yang lapang.  Satu rumah biasanya dihuni oleh 2 hingga 3 keluarga. Walau demikian tiap keluarga dapat menjaga privasi masing-masing keluarga. Saya sempat ngobrol bersama ibu-ibu dan anak perempuan yang sedang berkumpul di dapur sore itu, mereka sedang mempersiapkan makan malam.

bajo11

Ngobrol santai kami harus disudahi karena matahari semakin condong ke timur. Kami harus kembali ke pulau Hoga. Sore itu bulan sudah menampakkan bentuk sempurna, padahal langit belum terlapau gelap. Diiringi beberapa anak yang bermain di dermaga, kami meninggalkan desa Sama Bahari. Dari atas kapal kami melihat kampung Bajo itu mengapung diatas laut, dan bulan yang sempurna menggantung indah di atasnya.

bersama-anakanak-kampung-bajo-sampela

bajo12

bajo13

Tak disangka niatanku untuk berkunjung di kampung bajo dikabulkan sang pemilik alam semesta. Melihat langsung kehidupan masyarakat Bajo yang istimewa berbaur bersama alam dengan segala kelebih kurangannya.

Iklan

8 pemikiran pada “Perkampungan Bajo – Sampela

    1. hai bunsal….
      alhamdulillah masih ada kesempatan dan rezeki untuk terus melangkah
      belum ada rencana siy ke lombok, tapi kadang ga direncanakan malah bisa sampai sana lho…nantikan saja kedatanganku bunsal #semacamngetop

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s