Ketika Nyaris Batal Liburan

IMG_20161112_093747_HDR.jpg

“Selamat siang bu Elvi, saya dari Wisata Pelni, kami tadi kirim email apa sudah dibaca bu ?” suara seorang anak muda terdengar dari seberang sana, entah demi apa, telpon dari Wisata Pelni siang ini tiba-tiba membuat saya berdesir dan perasaan ga enak menjalar ke seluruh tubuh. Padahal informasinya belum selesai disampaikan. Berusaha tenang dan lanjutkan percakapan.

“Siang, saya belum sempat check email, ada apa y ?”

“Mengabarkan untuk paket wisata pelni tujuan wakatobi diundur bu”

Hening sejenak…..tarik napaaaaaassss…….

“WWHHHAAAAATTTT ???? AAAAPPAAAAHHHHH ?? DI UNDDUUUURR……….MAKSUDNYA APA DIUNDUR ? DIBATALIN GITU ?? MAS TAU GA SEKARANG TANGGAL BERAPA, ITU KAN 2 HARI LAGI, APA-APAAN NGEBATALIN H-2, SAYA UDAH BELI TIKET, UDAH NGAJUIN CUTI, UDAH PACKING, TINGGAL BERANGKAT AJA, TRUS MASNYA SESANTAI ITU BILANG PAKET WISATA PELNI KE WAKATOBI DIUNDUR ?? ….GA BISA GITU MAS”

“iya bu, maaf, soalnya kuotanya kurang” (dengan intonasi suara super hati-hati)

“SEHARUSNYA PEMBATALAN GA MEPET GITU MAS, GIMANA INI ?TRUS JADINYA GIMANA ?? SAYA UDAH BELI TIKET PESAWAT, MEMANG MAU GANTI JUGA UANG TIKETNYA ? LAGIAN GIMANA SIY, PADAHAL 2 MINGGU SEBELUMNYA SAYA SUDAH KONFIRMASI LAGI DAN KATANYA JADI’

“iya bu,nanti dikonfirmasi lagi mengenai pengembaliannya sama atasan saya bu”

.

.

.

Demikianlah drama pertama dari perjalanan ini dimulai, marah, gemes, sebel segala esmosi jiwa tumpah ruah jadi satu. Gimana ga, coba bayangkan, udah tinggal berangkat, tautau dibatalkan sepihak…..jengjeng banget ga siy ??

Usai percakapan via telp dengan mas2 Pelni, saya langsung check email, demikian bunyinya :

Screenshot_2017-01-11-15-51-14-134_com.google.android.apps.docs.png
Tanggal suratnya 7 Nov 2016, di emailnya tanggal 10 Nov 2016 siang, yang malamnya kita sudah berangkat menuju Makassar dan lanjut menuju Baubau keesokan hari. Dan  denger2 dari teman, paket pulau Komodo pun bahkan juga dibatalkan, huh….parah 

Selanjutnya telp Fenti untuk menjelaskan kondisinya. Entah kenapa walaupun gemes dan kesel banget dengan pembatalan dari Wisata Pelni, tapi saat ngobrol bareng, kita menanggapinya dengan tenang aja, ya udah kalo batal ke wakatobi kita di Baubau aja,eksplore pulau Buton (masak siy ga ada spot kece buat sekedar snorkeling gitu) cari resort yang bagus untuk sekedar bangun tidur-berenang-leyehleyeh-makan enak-repeat. Jadi fix kita tetap berangkat dengan apapun yang akan terjadi

Tak berapa lama, seorang bapak memperkenalkan diri bernama ‘Gatot’ Penanggung Jawab Wisata Pelni menghubungi via telp. Menjelaskan segala kondisi dan alasan pembatalan. But drama should go on….dengan berusaha mempertahankan tensi tinggi,kembali mengulang ‘GIMANA INI MANAJEMEN DARI WISATA PELNI, PEMBATALAN H-2 DARI JADWAL KEBERANGKATAN ITU SAMA SAJA TIDAK MENGHARGAI PESERTA YANG SUDAH MELUANGKAN WAKTU, MEMBELI TIKET, MENGURUS CUTI (segala curahan hati dituangkan yang penting lega semacam curcol ditinggal pacar…..eh kog…)

Pak Gatot yang berusaha sabar menanggapi Jeritan Hati saya, menanggapi ‘kita akan ganti semua pengeluaran yang sudah dilakukan bu, kirimkan saja booking tiket dan hotelnya’.

Masih belum puas donk karena ini bukan soal penggantian uang semata ….tapi SAYA BUTUH LIBURAN PAK…..sebagai kaum fakir liburan, cuti yang sudah disetujui bapak juragan di kantor itu adalah sesuatu yang tak ternilai harganya.

Komunikasi dengan pak Gatot berlanjut ke WA, intinya minta pertanggungjawaban penggantian trip. Segala usulan ditawarkan, hingga no. contact kepala cabang Pelni Baubau pun diberikan agar ikut dilibatkan dalam kerepotan mencari alternative kegiatan. Hingga akhirnya kami mendapatkan no. contact Rachmad pemilik Oceania Wakatobi ;  operator wisata diving di Wakatobi. Dengan ketangkasannya menyambut client lemparan wisata pelni (yang ternyata tiap tahunkejadian…cateeeeet) dan menyelesaikan permasalahan kami, dengan memberi alternative liburan ke Wangiwangi dan Hoga (Keledupa) – kami melewati Tomia karena memilih untuk menikmati Baubau di hari terakhir.

Satu permasalahan teratasi, ketegangan mereda, kembali senyumsenyum.

Baru santai sejenak, tiba-tiba di telp Sriwijaya Air, konfirmasi mo dipindah jadwalnya jadi lebih cepat atau penerbangan berikutnya first flight di pagi hari….waduuuuuh (lirik hujan deras dibalik jendela yang artinya sore nanti bakalan macet gila jalanan Jakarta). Pilihan penerbangan menjelang midnite yang kita ambil adalah memperhitungkan waktu macet menuju bandara yang luar biasa di hari jumat malam, dan dengan memperhitungkan waktu tunggu saat transit yang tak terlalu lama di bandara Hasanuddin. Jadi ketika schedule berubah, artinya menimbulkan kepanikan baru, khususnya menghadapi neraka macet jakarta ketika hujan deras dihari jumat sore, yang kalau terlambat check in bakalan selesailah sudah liburan ke Wakatobi dan berderet tempat lain dibelakangnya.

Duuuuh….ini adaapa dengan perjalanan ini, kenapa banyak sekali yang berusaha menghalangi, jadi kepikiran yang aneh-aneh dari yang biasa sampai menakutkan.

Ambil napas panjaaaaaang, berpikir tenang….huuufffft

Negosiasi dan percakapan panjang dengan Mbak Sriwijaya Air cukup berlangsung dengan alot. alasannya adalah ada efisiensi dan kelebihan penumpang, sehingga beberapa penumpang harus di sesuaikan kembali jadwalnya. Padahal kemaren mbak Sri juga sudah menghubungi saya untuk konfirmasi keberangkatan kita. setelah menjelaskan segala situasi dan kondisinya, akhirnya kami berhasil mempertahankan jadwal penerbangan kami di jam 23.10 WIB. Yang artinya, sepulang kerja masih bisa sedikit bernapas untuk bersiap menuju bandara.

Saatnya berangkat ke Bandara. Apabila memang tidak diperbolehkan untuk berangkat ke Wakatobi, maka finalnya adalah perjalanan menuju Bandara. Sudah menyiapkan mental dengan kemacetan yang akan dihadapi, maka dengan niat menghindari resiko lebih besar, maka saya pesan Uber saja dan bersiap di rumah.

Seorang bapak pensiunan menjemput saya dengan mobilnya. Sesaat sebelum berangkat saya sudah memantau kemacetan tol dalkot melalui google map, yang menunjukkan warna merah menyala hampir di seluruh jakarta. Sebagai warga Jakarta, memantau macet itu perlu banget, sehingga bisa mengantisipasi dengan mengambil jalan alternative menghindari macet yang parah. Saya sudah mempelajari kemacetan yang akan saya hadapi menuju bandara, sehingga memilih untuk melalui daerah Kemayoran untuk memotong kemacetan di dalam toldalkot, ekor merahnya tak terlalu panjang dibanding saya masuk dari rawasari. Begitu keluar dari perumahan saya, bapak Uber minta izin untuk isi bensin dulu, okelah pak….saya tunjukkan SPBU terdekat searah perjalanan kita. Usai isi bbm, si bapak uber yang santun berkendara ini tak berani untuk crossing langsung masuk ke jalan Benyamin sueb-kemayoran, tapi si bapak dengan santunnya mengikuti arus hingga akhirnya kita terjebak persis di ujung terowongan rel kereta stasiun Senen. Mobil tak bergerak….semenit…dua menit…lima menit…duduk saya mulai gelisah…degdeg ser….10 menit tak ada pergerakan berarti. Dalam hati saya langsung pesimis…duuuh…selesai lah sudah liburan gw…puyeeeng…..Saya pelajari dimana berada, memperhatikan motor lalulalang melewati jalan kecil  dan memaksa si bapak Uber untuk sedikit bergerak menuju ujung jalan kecil tak jauh dari loaksi kita. Awalnya si bapak meragu, hingga saya yakinkan bahwa jalannya cukup untuk dimasuki mobil dan dengan mengikuti arahan saya blusukan ke jalan kecil, akhirnya kami terbebas dari kemacetan gila dan meluncur bebas di kawasan kemayoran…huuuffftt…. bisa napas lagi ketika kami sudah memasuki jalan tol.

Jalan Tol Dalam Kota dalam kondisi macet yang sudah saya prediksikan, tersendat dan sesekali lancar. Tapi si Bapak Uber yang menyetir dengan santun itu tetap tertib berjalan pelan, sementara mata saya sibuk melirik kiri dan kanan yang kadang terlihat lancar (seandainya saja pakai driver kantor dah selapselip agresif melihat kesempatan jalan yang bergerak)…..duuuuh paaaak….saya berusaha mengalihkan pikiran dan pemandangan dengan bersibuk pada layar ponsel; baca twitter, wa, fesbuk, path hingga main games….sesekali melirik gemas ke sisi jalan yang terlihat lebih lancar dari jalur saya…..ddduuuuhhh….paaaak, bisa ga siy kita pindah ke jalur sanaaaa…..

Setelah 2 jam diperjalanan saya tiba di terminal 2F, check in dan peluk gembira Fenti yang sudah standby di bandara sedari sore. Kata Fenti, kita belum boleh lega dulu, sebelum kaki menapak di Wangiwangi…oke

Mulai dari penerbangan Jakarta – Makassar dan berlanjut menuju Baubau semua berjalan lancar, kami sudah di jemput seketika mendarat dan diantar menuju pelabuhan, hingga akhirnya berlayarlah kami menuju Wangiwangi. Begitu kaki menjejak di pelabuhan Wangiwangi, barulah aku dan fenti melampiaskan kegembiraan kita…

 

YYYYYEEEEEIIIII….LIBURAN DIMULAAAAIIIII

 

 

 

 

Iklan

4 pemikiran pada “Ketika Nyaris Batal Liburan

  1. berasa deh rasanya ngejar pesawatnya.
    gak jauh beda kalo saya harus ngejar jadwal KAJJ pake KRL. ditambah kudu transit nunggu KRL lanjutan, dan ditambah lagi ada gangguan sinyal. dyar! rasanya deg deg syer.. 😀

    btw, lihat foto kapalnya jadi kangen sewaktu masih sering naik kapal.. dulu pernah lihat Jetliner merapat di Tj.Emas.

    1. hahahahaaa…..tapi beneran lega begitu lepas dari semua hambatan itu.
      btw itu kapal ferri reguler penghubung pulu buton ke pulau wangi-wangi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s