Wakatobi #1

wakatobi1

Sudah cukup lama kepulauan Wakatobi masuk dalam list tempat wajib kunjung. Gugusan pulau-pulau dengan keindahan bawah laut yang begitu menawan tak memindahkan Wakatobi dalam toplist saya. Tapi entah kenapa perlu waktu yang cukup lama hingga akhirnya perjalanan ke Wakatobi dapat terwujud. Walau harus melalui drama seri menyebalkan menguras emosi, siang itu saya menjejakkan kaki saya di pelabuahan Wanci, pulau Wangi-wangi, salah satu pulau besar di gugusan pulau Wakatobi.

Wakatobi merupakan gabungan nama 4 pulau besar, yaitu Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Gugusan kepulauan di ujung tenggara kaki pulau Sulawesi. Kepulauan Wakatobi dikenal juga dengan sebutan Kepulauang Tukang besi. Ada beberapa sejarah merujuk penamaan Kepulauan Tukang besi, salah satunya yang cukup relevan dapat dibaca disini https://beringing.wordpress.com/2012/06/21/asal-usul-nama-pulau-digugus-kepulauan-tukang-besi/

Sebuah mobil avanza telah menunggu kami begitu kami menjejakkan kaki dengan girang dan riang gembira (gimana ga gembira setelah melalui drama pembatalan trip pelni, penjadwalan ulang pesawat, kemacetan gila menuju bandara, semua kejadian yang menguras emosi luar dalam). Rachmat, owner operator dive Oceania Wakatobi yang baik hati sebagai penyelamat liburan di Wakatobi, menggiring kami untuk segera meninggalkan kerumunan orang di pelabuhan dan mengantarkan menuju hotel Wakatobi, yang tak seberapa jauh dari pelabuhan (karena memang pulau kecil juga siy, kemana-mana dekat). Sebuah hotel yang cukup bersih dan nyaman untuk kami beristirahat setelah menempuh perjalanan dari semalam berpindah beberapa moda transportasi hingga akhirnya berlabuh di hatimu…..eh di Wangi-wangi. The journey start here…..

Sekedar rebahan meluruskan punggung (sampai gaya kayang demi mengembalikan tulang punggung yang dipaksa duduk terus menerus) dan mandi yang menyegarkan, akhirnya kami berhasil move on keluar dari kamar yang nyaman. Ada sebuah dermaga kecil di belakang hotel, sepertinya cocok menjadi tempat menikmati senja, kesanalah kami melangkah sambil menghirup segarnya udara sore di pulau kecil yang tenang. Duduk santai di atas dermaga kayu tanpa melakukan apapun, hanya menatap sebuah kapal kayu dihadapan kami. Inilah yang kami sebut ‘LIBURAN’, dimana kami dapat mengosongkan pikiran, menikmati apa yang ada dihadapan tanpa beban. Pilihan kami menikmati senja tak salah. Sore itu matahari memang tidak memberikan pemandangan spektakuler saat tenggelam yang biasanya berbentuk telur emas tenggelam perlahan, tapi warna langit saat merah merekah pecah di ufuk barat memberikan dampak spektakuler untuk foto-foto yang kami buat. Keberuntungan pertama kami dimulai disini.

wakatobi2

Usai shalat maghrib, rahmat mengingatkan untuk bersiap makan malam. Entah kemana kami akan dibawa untuk menikmati makan malam pertama di Wangi-wangi. Tak berharap banyak, sehingga hanya pasrah kemana mobil akan membawa kami. Tak berapa lama, mobil kami berhenti disebuah lahan kosong, kami turun dengan bingung. Ada lampu-lampu redup warna warni dan sebuah petunjuk bertuliskan ‘Wasabi Nua’. Langkah kami mengikuti arah, dan tibalah kami di ujung sebuah jembatan kayu, ada pulau kecil di seberang sana,yang terdapat rumah kayu diatasnya dalam cahaya temaram. Aku dan Fenti langsung terpana dan loncat-loncat kegirangan….kereeeen bangeeeeed tempatnyaaa ……aaaaaakkkkhhh…..seandainya ga sama Fenti pasti dah gimanaaaa gitu…pacar mana pacaaar…..ikuuuut sinih #sambil ngayal lalu kecemplung ke laut.

wakatobi3
Restoran Wasabi Nua – bukan restoran jepang, dengan menu lokal
wakatobi4
menu makan malam kami yang nikmat

Makan malam kami berjalan romantis (Fenti…lo boleh di tuker ma mas pacar ga siiiy….) diterangi liling ditengah meja, dengan menu ikan kuah kuning yang lezat dan segelas lemon tea dingin yang segar. Tempat cantik diatas atol yang sangat romantis ini juga menyuguhkan hiburan live music langsung dari para crew dan pengunjung juga boleh turut serta bernyanyi, tapi harus sadar diri, biar pengunjung lain ga bubar. Seperti saya yang akhirnya ikut bernyanyi diiringi mas pengelola restoran Wasabi Nua, yang bahkan lagunya jadi ‘theme song’mya fenti selama kami berlibur disini.

Cobalah mengerti

Semua ini mencari arti

Selamanya takkan berhenti

Inginkan rasakan

Rindu ini menjadi satu

Biar waktu memisahkan

 

Hari kami berakhir disini, senyum merekah dan alhamdulillah tiada henti terucap dari mulut kami.  Bukankah dibalik segala kesulitan tersimpan kenikmatan tiada tara, ini baru hari pertama dan kami sudah merasa sangat beruntung. Sungguh benar bahwa manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan, dan kami diberi hadiah yang sangat indah.

Iklan

2 pemikiran pada “Wakatobi #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s